ASSALAM'MUALAIKUM WR WB...

Selamat datang para pengunjung website resmi FIMI [Forum Intelektual Mahasiswa Islam] semoga bermanfaat untuk kejayaan Islam. FIMI mempunyai VISI melanjutkan kehidupan Islam.

SIMNAS (Simposium Nasional) BKLDK 2016

Simposium Nasional Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus 2016 | 25-27 Maret 2016 | Institut Pertanian Bogor

Yuk Berjuang Dalam Dakwah

Berjuang Mati | Tidak Berjuang Juga Mati | Mari Berjuang Sampai Mati | Berharap Ridho Illahi

QS. Al-Baqorah : 41

Dan Janganlah Kamu Menukarkan Ayat-Ayat-Ku Dengan Harga Yang Rendah (QS. Al-Baqorah : 41)

HR. Ahmad dan Abu Dawud

Barang Siapa Yang Menyerupai Suatu Kaum Maka Dia Termasuk Golongan Mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Minggu, 21 Februari 2016

PERINTAH ALLAH MERUPAKAN UJIAN KEIMANAN

Marilah kita senantiasa meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketaqwaan kita. Keimanan seseorang pastilah akan diuji oleh Allah swt, semakin tinggi tingkat keimanan, semakin berat pula ujian yang akan Allah berikan. Allah berfirman:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-‘Ankabut : 2 – 3)

Diantara jenis ujian yang Allah berikan kepada kita adalah ujian yang berbentuk perintah. Nabi Ibrahim a.s. diuji dengan perintah untuk meninggalkan Hajar dan Isma’il di lembah tandus di Makkah, Hajar , istri nabi Ibrahim di uji dengan ditinggalkan suami di tempat yang tak bertuan, dalam riwayat Bukhory dinyatakan bahwa awalnya beliau tidak rela, selalu mengikuti Ibrahim sambil berkali-kali bertanya:

“Wahai Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini, lembah yang tidak ada orang dan tidak ada sesuatupun?” Nabi Ibrahim diam, tidak sanggup menjawab pertanyaan istrinya, sampai akhirnya istrinya kemudian bertanya:

“Apakah Allah yang memerintahkan engkau hal ini?” Nabi Ibrahim baru bisa menjawab, “ya”, kemudian Hajar mengatakan:

“Kalau demikian (perintah Allah), maka (Allah) tidak akan menelantarkan kami.”

Sungguh Ibrahim dan istrinya telah membuktikan keimanan mereka kepada Allah dengan menjunjung tinggi perintah Allah walaupun dalam pandangan kebanyakan manusia, perintah tersebut sangatlah tidak manusiawi. Coba kita bayangkan seandainya kita yang diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anak yang sudah lama kita nantikan kelahirannya, bukan meninggalkan di tempat yang dekat, namun ditempat yang jauh yakni dari Palestina ke Makkah, bukan di tempat yang tersedia kebutuhan hidup, namun di lembah tandus yang air pun susah dicari, akan tetapi keimanan telah merasuk ke diri mereka, hingga dengan kemantapan hatinya Hajar mengatakan: “Kalau demikian (perintah Allah), maka (Allah) tidak akan menelantarkan kami”

Ketika mereka lulus dari ujian ini, tidak berselang lama turunlah ujian berikutnya yakni perintah untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Bagaimana mungkin seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dia cintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:

“Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” (QS. Ash-Shaffat : 106).

Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim as. yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya, perintah yang sangat berat itupun dijalankan, walaupun akhirnya Allah menggantikan Isma’il dengan domba yang besar.

Apa yang dilakukan oleh keluarga Nabi Ibrahim a.s merupakan cermin bening untuk melihat sejauh mana kualitas keimanan kita kepada Allah SWT. Kualitas keimanan kita dapat kita ukur dengan merenungi sejauh mana sikap dan ketundukan kita kepada perintah-perintah Allah SWT.

Apakah kita melaksanakan shalat dengan rasa ringan atau berat?, apakah kita mengeluarkan zakat harta kita dengan enteng ataukah justru kita merasa rugi mengeluarkannya?, apakah kita berhaji karena perintah Allah ataukah karena gengsi?, sudahkah kita berupaya menambah ilmu kita setiap hari, ataukah kita hanya memberikan sisa-sisa waktu kita untuk ilmu, itupun kalau sempat? Sudahkah kita berupaya menegakkan semua perintah Allah dalam setiap aspek kehidupan kita?, dalam hal berekonomi, berinteraksi sosial, termasuk perintah-perintah Allah dalam mengatur pemerintahan? Kalau semua itu belum kita upayakan, atau kita berupaya namun asal-asalan, atau justru mencari-cari alasan untuk tidak menjalankannya, maka marilah mulai saat ini, kita kuatkan tekad untuk senantiasa berupaya melaksanakan semua perintah Allah SWT dalam aspek apapun.

Sungguh, ketaatan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan bukan hanya merupakan ujian keimanan, yang bila kita laksanakan dengan sempurna akan menambah kekuatan iman kita, namun tegaknya perintah Allah, tegaknya syari’ah-Nya juga akan menjadikan hidup ini penuh berkah. Rasulullah bersabda:

“Sungguh satu hukum yang ditegakkan dibumi lebih baik bagi penduduknya daripada mereka diberi hujan 40 pagi.” (HR Ahmad dan An Nasa’i dari Abu Hurairah)

#YukNgajiBarengFIMI
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : www.fimi-cimahi.blogspot.com
Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=kvCdS9CeotE
Facebook : https://www.facebook.com/Forum-Intelektual-Mahasiswa-Islam
Twitter : https://twitter.com/FIMIcimahi
Google+ : https://plus.google.com/108265056100254290903
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
==============================

Siapakah Yang Memberi Rezeki Dari Langin dan Bumi ?

Katakanlah, ” Siapakah yang memberi kamu rezeki dari langit dan bumi? Katakanlah: Allah, dan (apakah) sesungguhnya kami atau kamu di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata. (As-Saba: 24)
#YukNgajiBarengFIMI
#MahasiswaIslamIdeologis
#IntelektualMahasiswa
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : www.fimi-cimahi.blogspot.com
Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=kvCdS9CeotE
Facebook : https://web.facebook.com/Forum-Intelektual-Mahasiswa-Islam
Twitter : https://twitter.com/FIMIcimahi
Google+ : https://plus.google.com/108265056100254290903
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person: Mustopa [08-777-011-6926]
==============================

Apa Itu IMAN ?

Iman adalah pembenaran yang pasti sesuai dengan fakta berdasarkan dalil (at-tashdîq al-jâzim muthâbiq li al-wâqi’ ‘an dalîl). Dan pembenaran yang pasti (at-tashdîq al-jâzim) berarti keyakinan yang pasti yang tidak mengandungrayb (keraguan) dan tidak dimasuki syakk (kebimbangan). Ini adalah makna iman itu sendiri secara bahasa yakni pembenaran yang pasti (at-tashdîq al-jâzim).

Sesuai dengan fakta artinya bahwa fakta-fakta yang terindera membenarkannya dan tidak menentangnya. Dan hingga pembenaran yang pasti itu sesuai fakta maka harus berangkat dari dalil yang dipastikan kebenarannya baik apakah dalil ini: berupa dalil aqli (rasional) yakni hasil pembahasan rasional (aqliy) pada fakta-fakta yang terindera seperti pembahasan pada makhluk-makhluk yang terindera untuk berargumentasi bahwa Allah SWT adalah Penciptanya. Atau dengan membahas kalamullah yang telah diturunkan –al-Quran al-karim- untuk berargumentasi bahwa al-Quran itu adalah kalamullah SWT dan bukan ucapan manusia.

Dan berikutnya berargumentasi bahwa Muhammad yang datang membawa kalamullah itu adalah rasul dari sisi Allah. Atau dalil itu berupa dalil naqli yakni melalui penukilan yang dipastikan berasal dari Allah SWT di dalam kitab-Nya yang mulia atau berasal dari Rasul-Nya saw dalam haditsnya yang mutawatir berasal dari beliau saw. Hal itu seperti iman terhadap hal-hal ghaib, para malaikat, kitab-kitab yang diturunkan sebelum al-Quran, nabi-nabi terdahulu, Hari Akhir dan al-Qadar baik dan buruknya. Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (TQS an-Nisa’ [4]: 136)

==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : http://fimi-cimahi.blogspot.co.id/
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person: Mustopa [08-777-011-6926]
==============================


Photo Sampul






Kamis, 30 April 2015

Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup


::Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup::
Seruan “membumikan al-Quran” oleh orang-orang liberal dimaknai sebagai reaktualisasi al-Quran. Reaktualisasi al-Quran dimaknai bahwa kandungan al-Quran harus ditafsirkan sedemikian rupa hingga sejalan dengan realitas aktual. Agar al-Quran sejalan dengan perkembangan zaman modern maka harus ditafsirkan ulang supaya bisa sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pemaknaan seperti itu akhirnya al-Quran ditundukkan pada perkembangan zaman. Bagaimana mungkin al-Quran justru ditundukkan pada realitas rusak saat ini, padahal al-Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup umat manusia?
Bahkan ada yang lebih lancang dengan menggugat keaslian al-Quran. Ada juga yang menuduh bahwa al-Quran itu tidak lepas dari ucapan dan pengungkapan Muhammad yang tidak bisa dilepaskan oleh pengaruh konteks zamannya. Seruan dan tuduhan seperti itu pada akhirnya justru akan merusak keyakinan umat akan kesucian al-Quran dan bahwa al-Quran itu merupakan wahyu dari Allah SWT baik lafazh maupun isinya sehingga pasti benar. Tak diragukan lagi bahwa seruan seperti itu bukan mendekatkan kepada al-Quran tapi sebaiknya justru menjauhkkan umat dari al-Quran. Sayangnya seruan yang berasal dari para orientalis itu justru diusung orang muslim yang dianggap intelektual. Tentu saja seruan itu dan semacamnya harus diwaspadai oleh umat siapapun yang membawanya.
Disamping semua itu, juga ada beberapa sikap keliru terhadap al-Quran. Kadang kala yang terjadi adalah mistikasi al-Quran. Al-Quran diangap sebagai ajimat pengusir setan. Padahal, al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela.
Begitu juga, sudah mentradisi, setiap tahun turunnya al-Quran dirayakan secara seremonial. Al-Quran dibaca dan didendangkan dengan merdu di arena MTQ, tadarusan al-Quran juga marak, dsb. Namun sayang, aktivitas tersebut belum diikuti dengan pemahaman atas maksud diturunkannya al-Quran. Al-Quran yang diturunkan sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, justru dijauhkan dari kehidupan.
Al-Quran merupakan kalamullah dan membacanya merupakan ibadah. Betul, bagi seorang Muslim, sekadar membacanya saja berpahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29), bahkan pahala itu diberikan atas setiap huruf al-Quran yang dibaca. Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca. Sebab, al-Quran bukan sekedar bacaan dan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. Al-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.
Sering kita mendengar pernyataan bahwa al-Quran adalah pedoman hidup. Tetapi nyatanya al-Quran tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan. Al-Quran hanya diambil aspek moralnya saja sementara ketentuan dan hukum-hukumnya justru ditinggalkan.
Semua sikap itu sering diklaim sebagai sikap mengagungkan al-Quran. Disadari atau tidak semua sikap itu masih terjadi di tengah masyarakat. Padahal sesungguhnya sikap-sikap itu bukan bentuk pengagungan terhadap al-Quran, tapi sebaliknya justru pengkerdilan terhadap al-Quran. Bahkan boleh jadi semua itu termasuk sikap yang diadukan oleh Rasulullah saw dalam firman Allah SWT:
] وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا [
Dan berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan” (TQS. al-Furqan [25]: 30)
‪#‎YukNgajiBarengFIMI‬
‪#‎YukIkutKRIMM‬
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : www.fimi-cimahi.blogspot.com
Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=kvCdS9CeotE
Facebook : Forum Intelektual Mahasiswa Islam
Twitter : @FIMIcimahi
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================

Belajar Dakwah dari Ibnu Mas’ud


::Belajar Dakwah dari Ibnu Mas’ud::
Adalah seorang pemusik bernama Dzaadzan, pemilik suara merdu dan penikmat khamer. Saat Dzaadzan sedang berkumpul bermain musik dan minum khamer bersama teman-temannya, lewatlah seorang lelaki berperawakan kurus dan pendek. Lelaki ini mendekati mereka lalu memukul bejana yang berisi khamer hingga pecah dan berkata,”Alangkah bagusnya suara ini! Seandainya ia membaca Alquran tentu ia lebih baik. Seandainya yang terdengar dari suaramu yang bagus itu adalah Alquran maka engkau adalah engkau...engkau!” Ia pun berlalu meninggalkan mereka.
Dzaadzan bertanya pada kawannya,”Siapa orang ini?”
Mereka berkata,”Dia adalah Abdullah Ibnu Mas’ud! (Sahabat Rasulullah SAW)
Rupanya kejadian itu membuat perasaan taubat masuk ke dalam hati Dzaadzan. Ia lalu mengejar Abdullah Ibnu Mas’ud sambil menangis. Setelah mendapatinya Dzaadzan lalu menarik baju Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud pun membalikkan badannya menghadap ke arah Dzaadzan dan memeluknya. Seraya menangis Ia berkata, ”Marhaban wahai orang yang di cintai Allah!, mari masuk dan duduklah!”. Ibnu Mas’ud lalu menghidangkan kurma untuk Dzaadzan. (Siyar an Nubala 4/28)
Di kemudian hari, melalui dakwahnya Abdullah Ibnu Mas’ud, Dzaadzan menjadi seorang ulama besar. Kealiman dan kezuhudannya masyhur di kalangan para tabi’in. Biografinya terangkum dalam kitab Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]
Ibrah Dakwah
Kisah dakwah Abdullah Ibnu Mas’ud di atas memberikan beberapa pelajaran penting. Di antaranya: pertama, keikhlasan Ibnu Mas’ud dalam berdakwah. Ia tidak takut menyampaikan kebenaran meskipun seorang diri dan menghadapi banyak orang. Ia sampaikan kebenaran dengan tangan dan lisannya. Pengagungannya terhadap syiar-syiar Islam melahirkan penghormatan dan pengagungan. Siapa yang membesarkan Allah maka Allah jadikan selainNya kecil baginya.
Amr bin Abdul Qais berkata: “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan menjadikannya takut terhadap segala sesuatu.” (Sifatush shafwah 3/208).
Kedua, kasih sayang dan kelembutan Ibnu Mas’ud terhadap orang-orang yang bertaubat. Hal ini tercermin dari ucapan dan perbuatan beliau terhadap Dzaadzan ”Marhaban wahai orang yang di cintai Allah!, mari masuk dan duduklah!”. Ucapannya bernash Alquran, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri” (Tqs. Al Baqarah [2]: 222)
Ketiga, teknik berdakwah, menjelaskan yang mungkar seraya memberikan solusi pengganti sebagaimana ucapan Ibnu Mas’ud ra,”Alangkah bagusnya suara ini! Seandainya ia membaca Alquran tentu ia lebih baik”, “seandainya yang terdengar dari suaramu yang bagus itu adalah Alquran maka engkau adalah engkau...engkau!” ini juga cermin kecerdasan Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud dalam meluruskan kesalahan. Ia mengarahkan Dzaadzan si pemilik suara merdu menjadi pembaca Alquran. Suatu arahan yang memperhatikan tabiat seseorang agar sesuai syariah.
Semoga kita diberikan keikhlasan dalam menyampaikan kebenaran, diberikan hati yang lembut dan kasih sayang terhadap orang-orang yang shaleh dan senantiasa bertaubat dan berdakwah di jalan Allah. Diberikan kecerdasan pikir, kefasihan lisan dan perbuatan dalam menyampaikan risalah Islam hingga dakwah ini mampu menghidupkan kembali hati-hati yang hampir mati. Wallahu ‘alam bi ash shawab.
‪#‎YukNgajiBarengFIMI‬
‪#‎YukIkutKRIMM‬
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : www.fimi-cimahi.blogspot.com
Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=kvCdS9CeotE
Facebook : https://www.facebook.com/Forum-Intelektual-Mahasiswa-Islam
Twitter : https://twitter.com/FIMIcimahi
Google+ : https://plus.google.com/108265056100254290903
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================

Yuk Menyiapkan Kematian


::Yuk Menyiapkan Kematian::
Seorang Muslim sejatinya menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini hanyalah sementara karena dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Karena itulah Rasul SAW berpesan kepada Abdullah bin Umar ra, yang hakikatnya juga ditujukan kepada setiap Muslim, “Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara serta persiapkanlah dirimu menjadi penghuni kubur.” (HR al-Bukhari).
Hadits di atas bermakna, “Janganlah kamu terlalu cenderung pada dunia; jangan menjadikan dunia sebagai tanah air; jangan menanamkan ke dalam jiwamu angan-angan bahwa dunia itu abadi; jangan terlalu fokus pada dunia; jangan terlalu terikat dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan terlalu betah tinggal di tempat yang bukan tanah airnya; dan jangan terlalu disibukkan oleh perkara dunia, sebagaimana orang asing yang selalu merindukan pulang kepada keluarganya.” (Al-Malibari, Al-Isti’dad li al-Mawt wa Su’al al-Qubr, I/1).
Dunia tentu berbeda dengan akhirat. Dunia adalah sementara, sedangkan akhirat itu abadi. Kehidupan di dunia itu penuh tipu daya, sementara kehidupan akhirat itulah yang hakiki. Dunia adalah tempat beramal, sementara akhirat adalah tempat penghisaban dan pembalasan. Karena itulah Allah SWT mengingatkan manusia agar jangan menunda-nunda untuk beramal, karena saat kematian datang, kesempatan untuk beramal itu pun telah hilang. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, "Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sebentar saja sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih?" Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang jika telah datang waktu kematiannya. Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Munafiqun [63]: 9-11).
‪#‎YukNgajiBarengFIMI‬
‪#‎YukIkutKRIMM‬
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Website : www.fimi-cimahi.blogspot.com
Youtube : http://www.youtube.com/watch?v=kvCdS9CeotE
Facebook : https://www.facebook.com/Forum-Intelektual-Mahasiswa-Islam
Twitter : https://twitter.com/FIMIcimahi
Google+ : https://plus.google.com/108265056100254290903
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================