ASSALAM'MUALAIKUM WR WB...

Selamat datang para pengunjung website resmi FIMI [Forum Intelektual Mahasiswa Islam] semoga bermanfaat untuk kejayaan Islam. FIMI mempunyai VISI melanjutkan kehidupan Islam.

SIMNAS (Simposium Nasional) BKLDK 2016

Simposium Nasional Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus 2016 | 25-27 Maret 2016 | Institut Pertanian Bogor

Yuk Berjuang Dalam Dakwah

Berjuang Mati | Tidak Berjuang Juga Mati | Mari Berjuang Sampai Mati | Berharap Ridho Illahi

QS. Al-Baqorah : 41

Dan Janganlah Kamu Menukarkan Ayat-Ayat-Ku Dengan Harga Yang Rendah (QS. Al-Baqorah : 41)

HR. Ahmad dan Abu Dawud

Barang Siapa Yang Menyerupai Suatu Kaum Maka Dia Termasuk Golongan Mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Senin, 22 Februari 2016

SIRAH NABAWIYAH

Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah dan kasus yang menarik. Karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian fikih Sirah Nabawiyah termasuk sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang Khalifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam. Tujuan mengkaji Sirah Nabawiyah adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang hakekat Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehiduapn Nabi Muhammad saw, sesudah ia dipahami secara konseptional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Kajian Sirah Nabawiyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan memperjelas hakekat Isam secara utuh dalam keteledanannya yang tertinggi, Muhammad saw. Bila kita rinci, maka dapat dibatasi dalam beebrapa sasaran berikut ini :

1. Memahami pribadi kenabisan Rasulullah saw melalui celah-celah kehidupan dan kondisikondisi yang pernah dihadapinya, utnuk menegaskan bahwa Rasulullah saw bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya , tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rasul yang didukung oleh Allah dengan wahyu dan taufiq dari-Nya.

2. Agar manusia menndapatkan gambaran al-Matsatl al A’la menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk dijadikan undang-undang dan pedoman kehidupannya. Tidak diragukan lagi betapapun manusia mencari matsal a’la ( tipe ideal ) mengenai salah satu aspek kehidupan , dia pasti akan mendapatkan di dala kehiduapn Rasulullah saw secara jelas dan sempurna. Karena itu, Allah menjadikannya qudwah bagi seluruh manusia.Firman Allah: „Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ...“ QS al-Ahzab : 21

3. Agar manusia mendapatkan , dalam mengkaji Sirah Rasulullah ini sesuatu yang dapat membawanya untuk memahami kitab Allah dan semangat tujuannya. Sebab, banyak ayatayat al-Quran yang baru bisa ditafsirkan dan dijelaskan maksudnya melalui peristiwaperistiwa ynag pernah dihadapi Rasulullah saw dan disikapinya.

4. Melalui kajian Sirah Rasulullah saw ini seorang Muslim dapat mengumpulkan sekian banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlak. Sebab tak diragukan lagi bahwa kehiduapn Rasulullah saw merupakan gambaran yang konkret dari sejumlah prinsip dan hukum Islam

5. Agar setiap pembina dan da’i Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara pembinaan dan dakwah. Adalah Rasulullah saw seorang da’i pemberi nasehat dan pembina yang baik, yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan yang pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya. 

KEPRIBADIAN DALAM ISLAM

Kepribadian setiap manusia terbentuk dari aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap). Kepribadian tidak ada kaitannya dengan bentuk tubuh, asesori dan sejenisnya. Semua itu hanya (penampakan) kulit luar belaka. Merupakan kedangkalan berpikir bagi orang yang mengira bahwa asesoris merupakan salah satu faktor pembentuk kepribadian atau mempengaruhi kepribadian. Manusia memiliki keistimewaan disebabkan akalnya, dan perilaku seseorang adalah yang menunjukkan tinggi rendahnya akal seseorang, karena perilaku seseorang di dalam kehidupan tergantung pada mafahim (persepsi)nya, maka, dengan sendirinya tingkah lakunya terkait erat dengan mafahimnya dan tidak bisa dipisahkan. Suluk (tingkah laku) adalah aktifitas yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi gharizah (naluri) atau kebutuhan jasmaninya. Suluk berjalan secara pasti sesuai dengan muyul (kecenderungan) yang ada pada diri manusia untuk mencapai kebutuhan tersebut. Dengan demikian mafahim dan muyulnya merupakan tonggak atau dasar dari kepribadian. Lalu, apa sebenarnya yang dinamakan dengan mafahim? Tersusun atas apa mafahim ini, dan apa saja yang dihasilkannya? Kemudian apa yang dinamakan dengan muyul? Apa yang memunculkannya, dan apa saja pengaruhnya? Perkara-perkara ini memerlukan penjelasan.

Mafahim adalah makna-makna pemikiran bukan makna-makna lafadz. Lafadz adalah perkataan yang menunjukkan kepada maknamakna. Terkadang ada faktanya, terkadang pula tidak ada. Seorang penyair berkata: Diantara para ksatria, ada seseorang yang jika engkau serang Bagaikan piramid besi yang amat kokoh (Tetapi) jika engkau lontarkan kebenaran (akidah) di hadapannya Luluhlah keperkasaannya, dan hancurlah mereka Makna dari syair ini ada faktanya dan dapat dipahami, meskipun untuk memahaminya perlu kedalaman dan kejernihan berpikir. Ini sangat berbeda dengan perkataan penyair: Mereka berkata, Apakah orang itu mampu menembuskan tombak pada dua orang serdadu sekaligus Pada hari pertempuran, dan kemudian tidak menganggapnya itu sebagai hal yang dahsyat Kujawab mereka, andaikan panjang tombaknya satu mil, tentu akan menembus serdadu yang berbaris sepanjang satu mil Makna syair tersebut tidak ada faktanya sama sekali. Seseorang tidak mampu menembuskan tombak pada dua orang sekaligus. Pada kenyataannya tidak ada satu orangpun yang menanyakan hal itu. Begitu pula tidak mungkin ia menusukkan tombak sepanjang satu mil. Maknamakna yang terdapat dalam kalimat tersebut di atas menjelaskan dan menafsirkan lafadz-lafadz syair itu.

MEMELIHARA AL-QURAN

Al-Quran adalah sebaik-baik bekal bagi setiap muslim. Lebih-lebih bagi para pengemban dakwah. Dengan al-Quran hati akan menjadi hidup. Dengannya, semua sandaran akan semakin kokoh. Para pengembannya akan menjadi seperti gunung yang berdiri kokoh, sehingga dunia pun menjadi kecil baginya ketika berada di jalan Allah. Dia akan senantiasa mengatakan yang hak, dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela, semata-mata karena Allah. Dengan al-Quran, sesuatu yang mudah diombang-ambing oleh angin lantaran bobotnya ringan, menjadi lebih berat bobotnya di sisi Allah, ketimbang gunung Uhud, karena dia senantiasa membaca al-Quran; dia membasahi lisannya dengan al-Quran, dan jari-jemarinya pun menjadi saksi. Seperti itulah para sahabat Rasulullah saw. mengarungi kehidupan dunia ini,  seolah-olah mereka seperti al-Quran yang berjalan.

Mereka senantiasa menelaah ayat-ayatnya, membacanya dengan sungguh-sungguh, mengamalkan isinya dan mendakwahkannya. Jiwa mereka pun tergetar oleh ayat-ayat adzab, dan hati mereka pun menjadi senang karena ayat-ayat rahmat. Air mata mereka bercucuran karena tunduk terhadap kemukjizatan dan keagungannya, serta patuh terhadap hukum-hukum dan hikmahnya. Mereka menerima al Quran langsung dari Rasulullah saw. sehingga ayat-ayatnya pun menghujam dalam lubuk hati mereka yang paling dalam. Karena itu, mereka menjadi manusia-manusia mulia dan menjadi para pemimpin; orang-orang yang berbahagia dan beruntung. Ketika mereka ditinggal oleh Rasulullah saw. menuju tempat yang paling tinggi di surga ‘illiyyin, mereka tetap konsisten memelihara al-Quran, sebagaimana wasiat Rasulullah saw. Maka para penghafal (pemelihara) al-Quran tadi senantiasa berada di barisan terdepan ketika melaksanakan amar makruf dan nahi munkar. Para pengemban al-Quran itu juga senantisa menjadi terdepan dalam segala kebaikan dan terdepan dalam menghadapi segala rintangan di jalan Allah Swt.

Minggu, 21 Februari 2016

Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup

Seruan “membumikan al-Quran” oleh orang-orang liberal dimaknai sebagai reaktualisasi al-Quran. Reaktualisasi al-Quran dimaknai bahwa kandungan al-Quran harus ditafsirkan sedemikian rupa hingga sejalan dengan realitas aktual. Agar al-Quran sejalan dengan perkembangan zaman modern maka harus ditafsirkan ulang supaya bisa sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan pemaknaan seperti itu akhirnya al-Quran ditundukkan pada perkembangan zaman. Bagaimana mungkin al-Quran justru ditundukkan pada realitas rusak saat ini, padahal al-Quran itu diturunkan untuk menjadi petunjuk hidup umat manusia?
Bahkan ada yang lebih lancang dengan menggugat keaslian al-Quran. Ada juga yang menuduh bahwa al-Quran itu tidak lepas dari ucapan dan pengungkapan Muhammad yang tidak bisa dilepaskan oleh pengaruh konteks zamannya. Seruan dan tuduhan seperti itu pada akhirnya justru akan merusak keyakinan umat akan kesucian al-Quran dan bahwa al-Quran itu merupakan wahyu dari Allah SWT baik lafazh maupun isinya sehingga pasti benar. Tak diragukan lagi bahwa seruan seperti itu bukan mendekatkan kepada al-Quran tapi sebaiknya justru menjauhkkan umat dari al-Quran. Sayangnya seruan yang berasal dari para orientalis itu justru diusung orang muslim yang dianggap intelektual. Tentu saja seruan itu dan semacamnya harus diwaspadai oleh umat siapapun yang membawanya.
Disamping semua itu, juga ada beberapa sikap keliru terhadap al-Quran. Kadang kala yang terjadi adalah mistikasi al-Quran. Al-Quran diangap sebagai ajimat pengusir setan. Padahal, al-Quran diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia, penjelasan atas petunjuk itu dan pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, baik dan buruk serta terpuji dan tercela.
Begitu juga, sudah mentradisi, setiap tahun turunnya al-Quran dirayakan secara seremonial. Al-Quran dibaca dan didendangkan dengan merdu di arena MTQ, tadarusan al-Quran juga marak, dsb. Namun sayang, aktivitas tersebut belum diikuti dengan pemahaman atas maksud diturunkannya al-Quran. Al-Quran yang diturunkan sebagai solusi atas persoalan yang dihadapi oleh umat manusia, justru dijauhkan dari kehidupan.
Al-Quran merupakan kalamullah dan membacanya merupakan ibadah. Betul, bagi seorang Muslim, sekadar membacanya saja berpahala (Lihat: QS al-Fathir [35]: 29), bahkan pahala itu diberikan atas setiap huruf al-Quran yang dibaca. Akan tetapi, yang dituntut oleh Islam selanjutnya adalah penerapan atas apa yang dibaca. Sebab, al-Quran bukan sekedar bacaan dan kumpulan pengetahuan semata, tetapi petunjuk hidup bagi manusia. Al-Quran tidak hanya sekadar dibaca dan dihapalkan saja, melainkan juga harus dipahami dan diamalkan isinya dalam kehidupan sehari-hari.
Sering kita mendengar pernyataan bahwa al-Quran adalah pedoman hidup. Tetapi nyatanya al-Quran tidak dijadikan sebagai sumber hukum untuk mengatur kehidupan. Al-Quran hanya diambil aspek moralnya saja sementara ketentuan dan hukum-hukumnya justru ditinggalkan.
Semua sikap itu sering diklaim sebagai sikap mengagungkan al-Quran. Disadari atau tidak semua sikap itu masih terjadi di tengah masyarakat. Padahal sesungguhnya sikap-sikap itu bukan bentuk pengagungan terhadap al-Quran, tapi sebaliknya justru pengkerdilan terhadap al-Quran. Bahkan boleh jadi semua itu termasuk sikap yang diadukan oleh Rasulullah saw dalam firman Allah SWT:
] وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوْا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا [
Dan berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran ini sebagai sesuatu yang diabaikan” (TQS. al-Furqan [25]: 30)
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Facebook : Forum Intelektual Mahasiswa Islam
Twitter : @FIMIcimahi
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================

Belajar Dakwah dari Ibnu Mas’ud

Adalah seorang pemusik bernama Dzaadzan, pemilik suara merdu dan penikmat khamer. Saat Dzaadzan sedang berkumpul bermain musik dan minum khamer bersama teman-temannya, lewatlah seorang lelaki berperawakan kurus dan pendek. Lelaki ini mendekati mereka lalu memukul bejana yang berisi khamer hingga pecah dan berkata,”Alangkah bagusnya suara ini! Seandainya ia membaca Alquran tentu ia lebih baik. Seandainya yang terdengar dari suaramu yang bagus itu adalah Alquran maka engkau adalah engkau...engkau!” Ia pun berlalu meninggalkan mereka.
Dzaadzan bertanya pada kawannya,”Siapa orang ini?”
Mereka berkata,”Dia adalah Abdullah Ibnu Mas’ud! (Sahabat Rasulullah SAW)
Rupanya kejadian itu membuat perasaan taubat masuk ke dalam hati Dzaadzan. Ia lalu mengejar Abdullah Ibnu Mas’ud sambil menangis. Setelah mendapatinya Dzaadzan lalu menarik baju Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud pun membalikkan badannya menghadap ke arah Dzaadzan dan memeluknya. Seraya menangis Ia berkata, ”Marhaban wahai orang yang di cintai Allah!, mari masuk dan duduklah!”. Ibnu Mas’ud lalu menghidangkan kurma untuk Dzaadzan. (Siyar an Nubala 4/28)
Di kemudian hari, melalui dakwahnya Abdullah Ibnu Mas’ud, Dzaadzan menjadi seorang ulama besar. Kealiman dan kezuhudannya masyhur di kalangan para tabi’in. Biografinya terangkum dalam kitab Hilyatul Aulia 4/199, dan Bidayah wan Nihayah 9/74 dan Siyar ‘Alamun Nubala 4/280]
Ibrah Dakwah
Kisah dakwah Abdullah Ibnu Mas’ud di atas memberikan beberapa pelajaran penting. Di antaranya: pertama, keikhlasan Ibnu Mas’ud dalam berdakwah. Ia tidak takut menyampaikan kebenaran meskipun seorang diri dan menghadapi banyak orang. Ia sampaikan kebenaran dengan tangan dan lisannya. Pengagungannya terhadap syiar-syiar Islam melahirkan penghormatan dan pengagungan. Siapa yang membesarkan Allah maka Allah jadikan selainNya kecil baginya.
Amr bin Abdul Qais berkata: “Barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan menjadikannya takut terhadap segala sesuatu.” (Sifatush shafwah 3/208).
Kedua, kasih sayang dan kelembutan Ibnu Mas’ud terhadap orang-orang yang bertaubat. Hal ini tercermin dari ucapan dan perbuatan beliau terhadap Dzaadzan ”Marhaban wahai orang yang di cintai Allah!, mari masuk dan duduklah!”. Ucapannya bernash Alquran, ”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri” (Tqs. Al Baqarah [2]: 222)
Ketiga, teknik berdakwah, menjelaskan yang mungkar seraya memberikan solusi pengganti sebagaimana ucapan Ibnu Mas’ud ra,”Alangkah bagusnya suara ini! Seandainya ia membaca Alquran tentu ia lebih baik”, “seandainya yang terdengar dari suaramu yang bagus itu adalah Alquran maka engkau adalah engkau...engkau!” ini juga cermin kecerdasan Sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud dalam meluruskan kesalahan. Ia mengarahkan Dzaadzan si pemilik suara merdu menjadi pembaca Alquran. Suatu arahan yang memperhatikan tabiat seseorang agar sesuai syariah.
Semoga kita diberikan keikhlasan dalam menyampaikan kebenaran, diberikan hati yang lembut dan kasih sayang terhadap orang-orang yang shaleh dan senantiasa bertaubat dan berdakwah di jalan Allah. Diberikan kecerdasan pikir, kefasihan lisan dan perbuatan dalam menyampaikan risalah Islam hingga dakwah ini mampu menghidupkan kembali hati-hati yang hampir mati. Wallahu ‘alam bi ash shawab.
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================

Yuk Menyiapkan Kematian

Seorang Muslim sejatinya menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini hanyalah sementara karena dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Karena itulah Rasul SAW berpesan kepada Abdullah bin Umar ra, yang hakikatnya juga ditujukan kepada setiap Muslim, “Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara serta persiapkanlah dirimu menjadi penghuni kubur.” (HR al-Bukhari).
Hadits di atas bermakna, “Janganlah kamu terlalu cenderung pada dunia; jangan menjadikan dunia sebagai tanah air; jangan menanamkan ke dalam jiwamu angan-angan bahwa dunia itu abadi; jangan terlalu fokus pada dunia; jangan terlalu terikat dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan terlalu betah tinggal di tempat yang bukan tanah airnya; dan jangan terlalu disibukkan oleh perkara dunia, sebagaimana orang asing yang selalu merindukan pulang kepada keluarganya.” (Al-Malibari, Al-Isti’dad li al-Mawt wa Su’al al-Qubr, I/1).
Dunia tentu berbeda dengan akhirat. Dunia adalah sementara, sedangkan akhirat itu abadi. Kehidupan di dunia itu penuh tipu daya, sementara kehidupan akhirat itulah yang hakiki. Dunia adalah tempat beramal, sementara akhirat adalah tempat penghisaban dan pembalasan. Karena itulah Allah SWT mengingatkan manusia agar jangan menunda-nunda untuk beramal, karena saat kematian datang, kesempatan untuk beramal itu pun telah hilang. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. Belanjakanlah sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, "Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sebentar saja sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih?" Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang jika telah datang waktu kematiannya. Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Munafiqun [63]: 9-11).
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================

Orang Paling Merugi Amalnya

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan Dia. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat (TQS al-Kahfi [18]: 103-105).
Memahami status perbuatan merupakan perkara amat penting. Kesalahan pemahaman akan berakibat fatal. Karena dianggap baik, suatu perbuatan giat diamalkan. Sebaliknya, karena dianggap buruk, suatu perbu-atan diabaikan, bahkan disingkirkan dari kehidupan. Betapa fatalnya jika anggapan itu salah. Suatu perbuatan yang dianggap baik, justru merupakan perbuat-an yang buruk. Atau sebaliknya, perbuatan yang dianggap buruk, kenyataannya adalah perbuatan yang baik. Menjadi kian fatal jika kesalahan identifikasi itu berkonsekuensi di akhirat. Neraka bisa menjadi tempat kembalinya. Itu terjadi, sungguh merupakan penyesalan tak bertepi. Agar tidak menimpa kita, kiranya penting bagi kita mendalami kandungan ayat di atas.
Salah Identifikasi
Allah SWT berfirman: Qul hal Nunabbikum bi al-akhsarîna a'mâl[an] (katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepada-mu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”). Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada Rasulullah SAW. Beliau diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya mengenai orang yang paling merugi amalnya. Ada sebagian mufassir menyatakan bahwa kaum yang diberitakan itu adalah kaum Musyrik Makkah. Ada juga yang berpendapat, mereka adalah Yahudi atau Nasrani. Karena lafadznya bersifat umum, dalam ayat 105-106 juga disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang kafir, tanpa ada pem-batasan atau pengkhususan, maka ayat ini berlaku umum untuk semua orang kafir.
Dalam ayat disebutkan bahwa mereka bukan hanya al-khâsirîn (merugi), namun al-akh-sarîn (paling merugi) amalnya. Dalam Alquran, kata al-khusr (kerugian) atau al-rabah (keber-untungan) berdimensi ukhrawi. Sehingga, betapa pun besarnya keuntungan didapatkan dunia, namun jika di akhirat berakibat dosa, siksa, dan neraka, maka itu adalah kerugian. Berkaitan dengan konsep kerugian ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT: Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (TQS al-Zumar [39]: 15). Dimensi ukhrawi ini pula yang dimaksud ayat ini menge-nai orang yang paling merugi.
Ayat berikutnya kemudian memberikan penjelasan mengenai orang yang paling merugi itu. Allah SWT berfirman: al-ladzîna dhalla sa'yuhum fî al-hayâh al-dun-yâ (yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini). Menurut al-Syaukani, kata dhalâl al-sa'y bermakna buthlânuhu wa dhiyâ-'uhu (sia-sia dan hilangnya amal). Ditegaskan al-Alusi, sia-sia dan lenyapnya amal secara keseluruhan itu di sisi Allah. Dan itu terjadi karena amal yang mereka kerjakan—sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir—adalah amal yang batil, tidak didasarkan syariah, tidak disyariahkan, tidak diridhai, dan tidak diterima.
Kendati amal mereka batil dan tidak bersandar kepada syariah, namun mereka me-nyangka sebaliknya. Allah SWT berfirman: wahum yahsabûna annahum yuhsinûna shun'[an] (sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya). Artinya, mereka men-duga bahwa perbuatan batil yang mereka kerjakan itu adalah perbuatan yang baik (fi'l[an] hasan[an]). Demikian penjelasan al-Samarqandi dalam tafsirnya, Bahr al-'Ulûm. Sebuah perbuatan dapat dikatagorikan sebagai perbuatan yang baik (al-fi'l al-hasan) manakala sejalan dengan syariah. Pelakunya juga menger-jakannya secara ikhas, semata karena untuk mendapat ridha-Nya. Persyaratan tidak ada dalam perbuatan mereka.
Salah sangka itu tentu membuat mereka menjadi orang paling rugi. Sebab, jika ada orang yang mengerjakan perbuatan buruk, dan dia juga meyakini bahwa itu adalah perbuatan buruk, maka masih terbuka kemungkinan untuk bertaubat. Namun jika dia tidak menganggap sebagai perbuatan buruk, taubat jelas tidak bisa diharapkan. Lebih parah lagi, jika ia menganggapnya sebagai perbuatan yang baik. Alih-alih bertaubat, pelakunya justru sangat mungkin mengorbankan segala yang dimiliki untuk memperjuangkan perbuatan batil itu. Tentu saja, dia amat merugi. Sebab, pengorbanan yang dilakukan justru berbuah dosa.
Akibat Ingkari Ayat Allah dan Kiamat
Mengapa mereka bisa mengalami kesalahan fatal mengidentifikasi baik atau buruknya suatu perbuatan? Ayat berikutnya memberikan jawab-annya. Allah SWT berfirman: Ulâika al-ladzîna kafarû bi âyâti Rabbihim waliqâihi (mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan [kafir terhadap] perjumpaan dengan Dia). Dijelaskan al-Jazairi, pengertian âyâti Rabbihim adalah Alquran dan semua yang yang terkandung di dalamnya, baik tauhid maupun hukum syara'. Telah maklum, Alquran merupakan petunjuk bagi seluruh manusia (lihat QS al-Baqarah [2]: 185). Di dalamnya terdapat panduan dalam menentukan baik atau buruk, terpuji atau tercela, halal atau haram. Manakala petunjuk dan panduan itu diingkari, niscaya dia akan salah dalam mengidentifikasi baik-buruknya suatu perbuatan.
Di samping Alquran, mere-ka juga mengingkari liqâihi (perjumpaan dengan-Nya). Al-Khazin menafsirkannya sebagai hari kebangkitan, pahala, dan dosa. Pengingkaran tersebut juga akan mengakibatkan salah identifikasi. Sebagaimana telah dipaparkan di muka, bahwa dimensi keberuntungan dan kerugian yang hakiki ukhrawi. Ketika akhirat diingkari, pene-tapan baik-buruk hanya akan didasarkan kalkulasi materi-duniawi. Dan itu tentu saja, pelakunya akan terjerumus pada kesalahan fatal.
Sebagai akibat dari kekufurannya: fahabithat a'mâlahum (maka hapuslah amalan-amalan mereka). semua amal mereka terhapus. Berkaitan dengan terhapusnya semua amal orang-orang kafir ini, di dunia dan akhirat, amat banyak ayat yang menjelaskannya. Selain ayat ini, penegasan serupa juga disebutkan dalam QS Ali Imran [3]: 22, al-Maidah [5]: 5, 53, al-A'raf [7]: 147, al-Taubah [9]: 17, 69. Muhammad [47]: 9, 32 dll. Demikian juga orang yang sebelumnya Muslim, lalu murtad dan mati dalam keadaan kafir, semua amalnya akan terhapus dan menjadi penghuni neraka selama-lamanya (QS al-Baqarah [2]: 216).
Allah SWT berfirman: falâ nuqîmu lahum yawm al-qiyâmah wazn[an] (dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi [amalan] mereka pada hari kiamat). Al-Wazn atau timbangan digunakan untuk menimbang baik-buruk, pahala-dosa. Siapa pun yang berat kebaikannya lebih berat, surga adalah tempatnya. Sebaliknya, jika kebaikannya lebih ringan, tempatnya adalah neraka (lihat QS al-Qari'ah [101]: 6-9). Penimbangan layak dilakukan kepada orang yang di dalam dirinya terdapat kebaikan dan keburukan. Ketika semua amal kebaikan terhapus tak tersisa, sebagaimana mereka, penimbangan tentu tidak perlu dilakukan.
Balasan setimpal atas sikap mereka tidak lain kecuali neraka Jahannam. Dalam ayat berikutnya, Allah SWT berfirman: Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahanam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok (TQS al-Kahfi [18]: 106). Tidak ada kerugian melebihi mereka.
Jelaslah, siapa saja yang tidak ingin menjadi orang yang paling merugi, wajib mengimani Alquran dan al-Sunnah, menjadikannya sebagai petunjuk dan panduan dalam beramal, dan menerapkannya dalam kehidupan. Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
E-mail : forumintelektualmahasiswaislam@gmail.com
PIN BBM : 545D2A31
Contact Person (Humas FIMI) : Sinar [0823-2148-0478]
==============================